Kamis, 24 Mei 2018


MAKALAH ILMU DAKWAH
“ PERBEDAAN DAKWAH UMUM DAN DAKWAH PEMBANGUNAN“
Dosen Pengampu: Muhamad Bisri Mustofa M.Kom.I



Disusun Oleh:
Muhammad Fiqri Ariansyah ( 1741010044 )
Siti Mutmainah ( 1741010083 )
Sisca hidayanti (1741010081)
SEMESTER II KPI B

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikm Wr. Wb.
Alhamdulillah dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt yang maha pengasih dan penyayang yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayahnya kepada saya, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tentang “PERBEDAAN WAHYU, AYAT, DAN SURAH”
Makalah ini merupakan salah satu makalah yang di berikan kepada saya dalam rangka memenuhi tugas ulumul Qur’an. Selain itu tujuan dari penyusunan makalah ini juga untuk menambah wawasan tentang perbedaan wahyu, ayat, dan surah. Sehingga besar harapan kami, makalah yang saya sajikan dapat menjadi konstribusi positif bagi pengembang wawasan pembaca.
Akhirnya saya menyadari dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami menerima kritik dan saran agar penyusunan makalah selanjutnya menjadi lebih. Semoga makalah ini memberi manfaat bagi banyak pihak. Amiin.
Wassalamu’alikum Wr. Wb.








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Pembahasan 1
BAB II PEMBAHASAN................... 2
Definisi Wahyu 2
Definisi Ayat  8
Definisi Surah 10
Perbedaan Wahyu, Ayat, dan Surah 12
BAB III PENUTUP 13
Kesimpulan 13
DAFTAR PUSTAKA 14



BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang masalah
Pembangunan merupakan pendekatan alternative untuk meningkatkan kesejahteraan manusia yang di kenal dengan istilah pembangunan sosial. Pembangunan sosial cirri utamanya yaitu berusaha untuk menyelaraskan antar kebijakan sosial dengan tujuan pembangunan peningkatan ekonomi. 
Pembangunan sosial berupaya melakukan pendekatan utuh (makro prespectif) yang memfokuskan pada masyarakat. Terutama pada perencanaan intervensi dengan suatu pendekatan perubahan yang dinamis terencana,umum, yang kesemuanya itu menuju keselarasan antara intervensi sosial dengan upaya pembangunan ekonomi pendekatan pembangunan sosial merupakan !suatu pendekatan yang unik yang mengintegrasikan tujuan ekonomi dan sosial. Hal hal demikian tidak di sadari yang pembangunan ekonomi hanya ingin mencapai taraf yang lebih tinggi tetapi sesungguhnya akan mengabaikan tujuan pembangunan sosial. Inilah sebabnya pembangunan sosial dirumuskan kembali di dalam kesempatan ini yang merupakan proses peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan proses pembangunan yang dinamis.
Istilah pembangunan digunakan secara luas. Sekarang ini sebagian orang mengartikan bahwa pembangunan merupakan suatu proses perubahan ekonomi yang ditandai dengan adanya industrialisasi. Istilah pembangunan juga bisa berarti suatu proses perubahan sosial yang menghasilkan urbanisasi peniruan. Gaya hidup modern atau barat. Dan sikap hidup yang baru.selain ini juga berkonotasi dengan kesejahteraan yang maksudnya adalah bahwa pembangunan bisa mempertinggi tingkat pendapatan masyarakat, meningkatkan pendidikan masyarakat, perbaikan kondisi rumah, dan keadaan kesehatan masyarakar. Meskipun pembangunan banyak memiliki pengertian yang berbeda beda namun konsep pembangunan secara umum masih berhubungan dengan perubahan ekonom. Banyak orang memaknai pembangunan sebagai perkembangan atau pertumbuhan ekonomi. 

Rumusan masalah
Bagaimana aspek, materi, da’i, mad’u, unsur-unsur, strategi, metode, media dan sasaran dakwah pembangunan dan umum ?
Manfaat 
Untuk mengetahui bagaimana aspek, materi, da’i, mad’u, unsure-unsur, strategi, metode, media dan sasaran dakwah pembangunan dan umum.
Memperluas wawasan mengenai ilmu dakwah 
Meningkatkan kreativitas pemakalah

















BAB II
PEMBAHASAN

Aspek dakwah pembangunan dan dakwah umum
1. Aspek pengetahuannya ( knowledge/ kognitif)
 dimana penerima dakwah akan menyerap isi dakwah tersebut melalui proses berpikir ,dan efek kognitif ini bisa terjadi apabila pada apa yang diketahui, dipahami dan dimengerti oleh mad’u tentang isi pesan yang diterimanya.
2. Aspek sikap (attitude / afektif)
  Efek ini berupa pengaruh terhadap perubahan sikap komunikasi mad’u setelah menerima dakwah. Sikap adalah sama dengan proses belajar dengan tiga variabel sebagai   penunjangnya yaitu perhatian, pengertian, dan penerimaan. Sikap inilah yang akan menentukan  keputusan apakah dari dakwah itu akan diterima atau ditolak pesan dakwahnya.
3. Aspek perilaku (behavioral)
 Efek ini merupakan bentuk efek dakwah  yang berkenaan dengan pola tingkah laku dari mad’u dalam merealisasikan materi dakwah yang diterima dalam kehidupan sehari-hari. Efek ini muncul setelah melalui proses kognitif dan afektif. Dengan demikian seseorang akan bertingkah laku setelah orang itu mengerti dan memahami apa yang telah diketahui, kemudian masuk kedalam perasaannya dan kemudian timbullah keinginan untuk bertingkah laku dan bertindak.

Materi dakwah
Materi dakwah yang disampaikan obyek dakwah disesuaikan dengan tingkatannya. materi dakwah yang harus disampaikan kepada tingkatan kelompok pemula adalah materi yang mengarah pada pembentukan kepribadian muslim yang meliputi:
(Arti syahadat)
(Mengetahui sifat-sifat Allah)
(Mengetahui sifat para Rosul)
(Mengetahui rukun Islam)
(Mengetahui hakikat dan kewajiban manusia)
(Memahami al-Qur`an)
Materi dakwah yang harus dikuasai oleh tingkatan kelompok pemuda adalah materi yang mengarah pada pembentukan kepribadian Da`i yang meliputi:
(Memahami perang ideologi)
(Memahami partai syetan dan tipu dayanya)
(Mengetahui problem-problem dakwah)
(Mengetahui perbedaan hak dan kebatilan)
(Mengetahui metode-metode pembentukan umat Islam)
(Mengetahui metode gerakan pendidikan Islam)
(Memahami metode dakwah)
(Pembentukan pribadi muslim)
Materi tingkatan kelompok madya adalah pendalaman tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya, dan menghafal ayat-ayat al-Qur`an dan mengkaji tentang tafsirnya.
Materi tingkatan kelompok ahli adalah pendalaman tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya. Menambah hafalan ayat-ayat al-Qur`an dan mengkaji tentang tafsirnya.
  Materi tingkatan kelompok purna adalah pendalaman tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya. Menambah hafalan ayat-ayat al-Qur`an dengan mengkaji tentang tafsirnya dan menghafal Hadits-Hadits Nabi. mereka selalu memperluas pemikirannya tentang Agama dengan membaca buku-buku agana sebagai bekal mereka menjadi da`i. dengan demikian yang membedakan kelompok madya, ahli dan purna adalah syaksiyah dan keilmuannya serta hasil evaluasi dakwahnya.
Sistematika materi-materi yang disampaika itu tersusun sedemikian rupa. Sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang Islam dalam waktu singkat. Bahkan secara otomatik juga memberikan dorongan untuk bergerak bagi para pengikutnya. Di sinilah letak kunci dari pertumbuhan dan perkembangan gerakan dakwah yang secara massif, yaitu pada penerimaan terhadap nilai yang diajarkan.


Da’i (pelaku dakwah)
Da’i adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan yang baik secara individu, kelompok atau berbentuk organisasi atau lembaga. kata da’i ini secara umum sering disebut dengan mubaligh (orang yang menyempurnakan ajaran islam) namun sebenarnya sebutan ini konotasinya sangat sempit karena masyarakat umum cenderung mengartikan sebagai orang yang menyampaikan ajaran islam melalui lisan seperti penceramah agama, khatib (orang yang berkhutbah), dan sebagainya. Da’i juga harus tahu apa yang disajikan dakwah tentang Allah, alam semesta, dan kehidupan, serta apa yang dihadirkan dakwah untuk memberikan solusi. terhadap prablema yang dihadapi manusia, juga metode-metode yang dihadirkannya untuk menjadikan agar pemikiran dan prilaku manusia tidak salah dan tidak melenceng.






Mad’u (penerima dakwah)
Unsur dakwah yang kedua adalah mad’u, yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama islam maupun tidak, atau dengan kata lain manusia secara keseluruhan. Sesuai dengan firman Allah QS. Saba’ 28:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

Artinya: “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada yang mengetahui”.(QS. Saba’: 28) 

Strategi dakwah
Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal asalan dalam berdakwah startegi ini bisa di praktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah tengah keluarga,kerabat,hingga masyarakat secara umum.
Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah.
Proiritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara persial(juz’iyyat)
Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat.m
Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil atau tanpa mengikuti tuntunan.
Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan(Amar Ma’ruf Nahi Munkar)
Berdakwah sesuai kemampuan
Kemungkaran yang nampak wajib di ingkari. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih munkar.
Siapa yang menghadiri suartu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya,maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut.
Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain.
Itu kaedah atau strategi umum yang bahasannya terdapat dari Syaikul Islam Ibnu Taimiyah.

Metode dakwah
Pengertian metode
Metode adalah suatu cara yang di tempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem, tata pikir manusia Metode dakwah adalah jalan atau cara yang di pakai juru dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah islam. Secara garis besar ada tiga pokok metode dakwah yang dijelaskan pada QS : An-Nahl : 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ 
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.



Bil-Hikmah, yaitu berdakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah dengan menitik beratkan pada kemampuan mereka, sehingga mudah di mengerti dan mereka tidak merasa bosan dan apa yang da’i sampaikan.
 Mau’izatul Hasanah, yaitu berdakwah dengan memberikan nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran islam dengan rasa kasih sayang (lemah lembut), sehingga apa yang disampaikan dai tersebut bisa menyentuh hati si madu.
Mujadalah Billati Hiya Ahsan, yaitu berdakwah dengan cara bertukar fikiran atau tanya jawab. Dengan ini dai bisa mengetahui apa yang menjadi pertanyaan oleh sekelompok orang/individu tentang suatu masalah dalam kehidupan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya kehidupan umat Islam, telah diketahui bahwa dakwah mempunyai kedudukan yang amat penting. Dengan dakwah, dapat disampaikan serta dijelaskan mengenai ajaran Islam kepada masyarakat dan umat sehingga mereka dapat mengetahui mana yang benar (haq) dan mana yang salah (batil). Peranan dakwah bukan hanya sebatas agar umat dapat mengetahui dan membedakan tetapi dakwah juga dapat mempengaruhi masyarakat untuk bisa melaksanakan hal-hal yang baik serta dapat menjauhi apa saja yang tidak benar yang terjadi dalam masyarakat. Sekiranya ini dapat diwujudkan dalam masyarakat Islam, sudah tentu hasrat kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dapat dicapai.

Media Dakwah
Pengertian Media
Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari Medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and Communication Technology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.

Macam-Macam Media yang digunakan untuk Berdakwah
Dakwah akan sukses apabila menggunaka bermacam-macam media sesuai situasi dan kondisi. Sedangkan media yang dapat dipergunakan sebagai berikut:

Mimbar
Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar bisa digunakan pada saat khutbah Jum`at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian besar Islam lainnya baik di masjid-masjid kampung maupun di kota, bahkan di hotel-hotel atau di gedung-gedung. Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama`ah dapat lebih fokus pada sutu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama`ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar masjid, dengan tujuan agar jamah yang ada diluar masjid tetap dapat melihat yang berkhutbah. Model mimbar ada dua macam, yaitu:
Mimbar bertangga (terbuka), biasanya yang berkhutbah membawa tongkat.
Mimbar tidak bertangga (terbuka), biasanyapun yang berkhutbah tidak membawa tongkat.
Media cetak
Media cetak pada era sekarang telah bermunculan, bagaikan buah rambutan yang sedang berbuah, baik itu majalah, koran, ataupun buletin-buletin lainnya. Hal ini merupakan wujud nyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada sebagai sarana untuk berdakwah. Melihat persaingan media cetak yang begitu hebat, maka para muballigh hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi penulis-penulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma`ruf nahi munkar di bidang media cetak. Mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup banyak peminatnya. Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada keterbukaan dan kebebasannya. Dan inilah problem besar bagi para pelaku dakwah selama ini.


Radio
Radio adalah siaran atau pengiriman suara atau bunyi melalui udara. Segala sesuatu dapat disiarkan melalui radio, seperti berita, musik, pidato, puisi, drama, dan dakwah yang dapat didengar oleh masyarakat.
Siaran radio dapat diterima atau didengar bukan hanya oleh yang berpendidikan tinggi saja, tetapi oleh orang yang berpendidikan rendah. Radio mendapat banyak khalayak, terutama karena radio lebih banyak menghidangkan hiburan dan informasi yang aktual
Radio merupakan media informasi yang hingga sekarang nasih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat di bawa kemana-mana. Oleh sebab itu, alangkah bermanfaatnya jika radio penuh dengan siaran-siaran yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan (amar ma`ruf nahi munkar). Pesawat radio sering kali kita jumpai semalam suntuk di warung-warung kopi,pos-pos jaga serta mobil-mobil. Bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil menunggu penumpang. Oleh sebab itu, alangkah bermanfaatnya jika radio-radio yang diputar selalu membawa pesan-pesan dakwah.
Para da`i atau muballigh dapat menyiarkan secara lengkap ceramah agama, khutbah saat sholat jum`at atau khutbah hari raya dua secara langsung ketika peristiwa berlangsung.

Film
Film dikenal juga dengan nama “gambar hidup” atau “wayang gambar”. Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang menyaksikannya. Disaat sedang menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai indentifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang pemeran film. Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang menontonnya,maka alangkah besarnya manfaat film itu, jika dijadikan sebagai media untuk berdakwah.

Televisi
Televisi adalah media penyiaran yang serumpun dengan radio. Jika radio hanya menyiarkan suara, maka televisi mampu menyalurkan suara dan gambar sekaligus, sehingga televisi dapat dipandang sebagai penggabung film dan radio. Televisi untuk menjadi media dakwah, atau menyalurkan pesan-pesan dakwah. Hal ini telan banyak dilakukan di Indonesia. Pada umumnya lembaga penyiaran televisi di Indonesia menyediakan waktu kegiatan dakwah, seperti adzan maghrib atau acara-acara khusus pada bulan ramadhan dan lain-lainnya. Televisi juga dapat bermanfaat sebagai media yang menyajikan dialog-dialog tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh umat Islami.
Televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai di mana-mana, baik di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di restoran. Televisi merupakan media informasi yang bersifat netral.
Televisi juga merupakan media audio-visual, yang juga seing disebut sebagai media pandang dengar. Maksudnya, selain televisi dapat kita dengar juga bisa kita lihat secara langsung. Oleh sebab itu, alang besarnya jika televisi itu lebih banyak menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah pemirsa dari kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang lebih baik.



Celluler / Handphone / Android
Celluler merupakan media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu banyaknya pemakai celluler, mulai dri pengusaha kelas atas hingga pengusaha kelas bawah. Bahkan tidak sedikit para remaja dan pengangguranpun menggunakannya. Melihat begitu semaraknya celluler, alang besar manfaatnya jika celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah. Yaitu dengan memanfaatkan fasilitas Multimedia Messaging Service(MMS) sebagai media untuk mengirim pesan-pesan normatif. Dengan ber-MMS kita dapat berdakwah dengan biaya murah.

Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan merupakan sarana dalam rangka memberi pemahaman yang sempurna dan mendalam dalam masalah ajaran agama Islam, dan membina kader da`i yang betul-betul paham dan mengajarkan ajaran dengan lengkap, baik secara teori maupun secara praktek, mulai tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Di Indonesia banyak da`i yang berdakwah melalui lembaga pendidikan. Misalnya pondok pesantren atau sekolah-sekolah agama Islam, terutama lembaga formal yang berada di bawah naungan Departemen Agama.

Organisasi keagamaan
Organisasi merupakan sarana memperjuangkan agama Islam, karena dapat memperjuangkan ajaran Islam secara terpogram dan sistimatis serta dapat menjangkau yang lebih leluasa. Di Indonesia berjuang melalui organisasi sangat efektif, karena dapat memperjuangkan hak-hak umat Islam dan dapat mempertahankan ajaran Islam sacara terorganisir, misalnya Nahdhatul Ulama`,Muhammadiyah dan Matla`ul Anwar
Partai Politik
Islam tidak akan bisa dilaksanakan secara kaffah (sempurna dan menyeluruh) tanpa mendirikan negara yang berdasarkan Islam. Sedangkan negara Islam tidak akan dapat didirikan tanpa menguasai parlemen, karena parlemen sebagai sarana membuat undang-undang dan peraturan pemerintah yang berdasarkan al-Qur`an dan Hadits. Sedangkan parlemen bisa dikuasai melalui partai politik. Maka oleh karena itu, salah satu sarana memperjuangkan ajaran Islam adalah melalui partai politik. Partai politik tidak akan mampu memperjuangkan ajaran Islam di parlemen, apabila visi dan misinya tidak berdasarkan Islam dan kader-kadernya tidak dididik secara Islami.



Sasaran dakwah
1. Pengertian Sasaran Dakwah
Ditinjau dari segi etimologi sasaran dakwah/ mad’u adalah bahasa arab dari isim maf’ul dari fi’il madhi yaitu  menyeru, dalam ensiklopedi islam diartikan “ajakan kepada islam”. Sedangkan menurut wahidin saputra bahwa mad’u adalah sekelompok/orang yang lazim disebut dengan jama’ah yang sedang menuntut agama dari seorang da’I, baik itu mad’u deket ataupun jauh. Seorang da’i akan menjadikan  mad’u sebagai sasaran tranformasi keilmuwan yang dimilikinya,  maka dari sini bisa kita definisikan kita mad’u adalah orang yang menjadi sasaran ajakan kepada islam yang hakiki.
Mad’u yaitu seseorang yang menjadi sasaran dalam berdakwah, ataupun dapat kita sebut manusia yang menjadi penerima dalam berdakwah, baik itu sebagai individu ataupun sebagai kelompok  baik manusia yang beragama islam maupun yang beragama islam. Dengan kata lain manusia keseluruhan yang ada dibumi ini.
Didalam berdakwah kepada manusia yang beragama non islam disitu tujuan dakwah adalah untuk mengajak mad’u untuk mengikuti dan sebisa mungkin menjadikan seseorang itu baik pada mahluk dan berdakwah kepada mad’u yang beragama islam untuk meningkatkan kualitas iman dan islam serta juga ihsan kita sebagai orang muslim yang dimana semua itu dituntuk pada diri kita. 
Didalam buku Manajemen Dakwah karangan M.Munir, S.Ag, M.A dan Wahyu Ilahi, S.Ag, M.A yang mana diterangkan bahwa didalam alquran menjelaskan tiga tipe sasaran dakwah yaitu :
- Mukmin
- Kafir
- Munafik 
Dari ketiga klasifikasi tersebut sasaran dakwah kemudian dikelompokan lagi berbagai macam pengelompokan antara lain : orang mukmin dibagi menjadi tiga yaitu ; dzalim linafsi, muqtashid , dan sabiqun bilkhairot, kafir bisa dibagi menjadi kafir zimmi dan kafir harbi. Mad’u itu terbagi dalam berbagai macam golongan, sehingga menggolongkan sasaran dakwah sama dengan menggolongkan manusia itu sendiri dari aspek profesi, ekonomi, dan seterusnya.
Oleh karena  itu ulama Muhammad Abduh membagi sasaran dakwah (mad’u) menjadi tiga golongan yaitu :
Golongan cerdik cendekiawan yang cinta kebenaran, dapat berfikir secara kritis, dan cepat dapat menangkap persoalan.
 Golongan awam, yaitu orang kebanyakan yang belum dapat berfikir secara kritis secara kritis dan mendalam, serta belum dapat menangkap pengertian-pengertian yang tingi.
 Golongan yang berbeda dengan kedua golongan tersebut yang dimana mereka senang membahas sesuatu tetap hanya dalam batasan tertentu saja, dan tidak mampu membahasnya secara mendalam.
Ketiga golongan tersebut yang dimana secara garis besar kita dapat mengetahui sasaran dakwah/ mad’u itu dapat digolongkan berbagai macam golongan dalam memahami mad’u atau seseorang yang menjadi sasaran kita dalam berdakwah. 
Manusia yang menjadi audiens yang akan diajak ke dalam Islam secara kaffah. Mereka bersifat heterogen, baik dari sudut idiologi, misalnya, atheis, animis, musyrik, munafik, bahkan ada juga yang muslim, tetapi fasik atau penyandang dosa dan maksiat. Dari sudut lain juga berbeda baik intelektualitas, status social, kesehatan, pendidikan dan seterusnya ada atasan ada bawahan, ada yang berpendidikan ada yang buta huruf, ada yang kaya ada juga yang miskin, dan sebagainya.
Sehubungan dengan kenyataan-kenyataan di atas, maka dalam pelaksanaan program kegiatan dakwah perlu mendapatkan konsiderasi yang tepat yaitu meliputi hal-hal sebagai berikut:
Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologis, berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan kecil serta masyarakat di daerah marjinal dari kota besar.
 Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi struktur kelembagaan, berupa masyarakat desa, pemerintah dan keluarga.
Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari tingkat usia, berupa golongan anak-anak, remaja dan orang tua.
Sasaran yang dilihat dari tingkat hidup social-ekonomis berupa golongan orang kaya, menengah, miskin dan seterusnya.
 Sasaran yang berupa kelompok-kelompok masyarakat dilihat dari segi social cultural berupa golongan priyayi, abangan, santri (klasifikasi ini terutama terdapat dalam masyarakat jawa). 
Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi okuposional (profesi atau pekerjaan), berupa golongan petani, pedagang, seniman, buruh, pegawai negeri dan sebagainya. 











BAB III
PENUTUP

Kesimpulan 
Dakwah dan pembangunan merupakan dua konsep yang syarat dengan makna istilah atau pembembaharuan, yaitu pembaharuan dalam konteks perwujudan masyarakat yang adil dan makmur secara materil dan spiritual. Kalaupun keduanya dipadukan menjadi satu konsep, dakwah pembangunan, maka spesifikasi maknanya adalah pada model pendekatan dan strategi dakwah yang tepat untuk suatu masyarakat yang sedang melaksanakan pembangunan.



















DAFTAR PUSTAKA

Nanih Machendrawati dan Agus Ahmad Syafei, Pembangunan Masyarakat Islam, PT Remaja Rosda Karya Bandung, 2001.

Nasrudin Harahap, Dakwah Pembangunan (Pengantar Sri Sultan Hamengku Buwubo X), DPD Golkar Tingkat I Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 1992.

Sulkan Chakim, Urgensi Dakwah Terhadap Pembangunan, P3M STAIN, Purwokerto, 2004.

Ali, Moh. dan Aziz, Ilmu Dakwah. Jakarta:Kencana, 2004.

al-Khauly, Al-Bahy, Tadzkirat al-Du’at. Kairo : Maktabah Dar al-Turas, 1408 H/1987 M.

Arifin, Psikologi Dakwah (Suatu Pengantar Studi). Jakarta: Bumi Aksara, 1994.

Munir dan Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah. Jakarta : Prenada Media.

Muriah, Siti, Metodologi Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IDUL FITRI

Assalamualaikum temen temen. Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya semuanya :) Gimana nih Ramadhan dan Idul Fitri k...